Wisata Pulau Sempu, Antara Manusia dan Monyet.

Oleh: Gina Gegana Saleha

Perjalanan selalu tentang pengalaman dan, katanya, pengalaman adalah guru terbaik. Saat pertama kali memutuskan untuk berkegiatan di alam terbuka, saya tidak tahu perjalanan seperti apa yang akan dilalui. Ternyata pengalaman perjalanan itu merupakan sebuah liburan ala backpacker pada Agustus 2015 lalu.

Saya cinta Indonesia. Saya menjelajah untuk mengenal Indonesia dengan baik. Saya berkegiatan di alam terbuka sebagai bentuk syukur akan alam atas segala hal yang diberikannya, pikirku pada masa itu. Perjalanan Agustus 2015 itu mungkin hanyalah perjalanan yang sederhana, akan tetapi pengalaman itu menjadi kenangan penghujung masa remaja saya yang tak terlupakan. Sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mengubah haluan pikiran, karena sebelumnya sering menganggap sebelah mata orang yang hanya berdiam diri di rumah, tanpa pergi menjelajahi alam Indonesia.

Hari Kemerdekaan Indonesia menjadi momen yang besar yang layak dirayakan dengan sebuah perjalanan.

Pulau Sempu
Gambar 1.Pemandangan Danau Segara Anakan di Pulau Sempu

Kala itu, kami memilih Kota Malang sebagai tujuan. Tepatnya pulau kecil nan indah yang dijuluki sebagai “surga dunia”, Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur. Seperti biasa, sebelum melakukan perjalanan kami akan membuat itinerary bermodal informasi dari internet.

Dari internet kami menemukan informasi bahwa Pulau Sempu merupakan Cagar Alam, yang artinya tidak boleh dikunjungi wisatawan dan pengunjung, terkecuali untuk tujuan penelitian. Pada saat itu kami mengartikannya sebagai tempat anti mainstream. Akan sangat keren, kan, jika kami pergi kesana?

Dari artikel yang saya baca, jalur yang harus dilalui untuk sampai di basecamp di bibir pantai cukup sulit dan memakan waktu sikra 3 jam. Entah bagaimana bisa, hanya dengan 30 menit kami sudah disambut oleh desiran ombak dan pasir pantai basecamp.

Harus saya akui Pulau Sempu memanglah sangat indah. Tak berlebihan jika saya bilang Pulau Sempu adalah pulau yang paling indah, yang pernah saya datangi. Bayangkan, sebuah pulau kecil di tengah laut, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan di tengah pulaunya terdapat laguna kecil bernama Segara Anakan. Di sanalah kami berkemah.

Dikarenakan lokasinya termasuk Cagar Alam, wajar kalau Pulau Sempu jadi lokasi pelestarian dan penangkaran hewan dan juga berbagai macam flora hutan dan laut. Salah satu hewan yang banyak dijumpai di sana adalah monyet. Jumlahnya banyak sekali. Setiap pagi, mereka akan turun ke laguna dan bermain-main di pohon. Hal tersebut membuat para wisatawan yang berkemah di laguna dan mendirikan tenda di sekitaran pohon kerap merasa terganggu. Tak jarang monyet-monyet ini mengacaukan, mengambil makanan dan merusak tenda-tenda.

Saat itu, tepat tanggal 17 Agustus 2015, saya dan teman-teman mengambil bendera merah putih. Kami pun menggunakan seragam SMA kami untuk mengabadikan momen dan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Kami naik ke karang-karang yang membawa kami pada pemandangan hamparan laut Samudera Hindia. Setelah selesai berswafoto ria, kami kembali ke camping ground.

 

 

Gambar 2. Merayakan Kemerdekaan

Hari sudah beranjak sore, monyet-monyet pun mulai turun ke laguna.

Saya melihat ada wisatawan yang melempari monyet-monyet dengan sepatu, sendok, atau barang apapun yang ada sekitar agar monyet menjauh dari tenda mereka. Beberapa wisatawan mencoba merebut kembali perbekalan mereka yang diambil oleh monyet-monyet. Dan beberapa wisatawan lain malah memberikan makanan pada monyet dan mendokumentasikannya seperti sedang di taman safari.

Hari itu Hari Kemerdekaan. Wisatawan yang datang pada dasarnya sama dengan kami, ingin mengekspresikan rasa nasionalisme dengan cara menikmati alam Indonesia.

Ada yang menarik, hari itu saya tertampar keras. Saya merasa kami merayakan Kemerdekaan dengan cara mengusik mahluk lain. Apa itu keren?

Baiklah, bagi para wisatawan monyet-monyet itu merupakan penganggu acara liburan mereka. Tapi pada kenyataannya merekalah tuan rumah dan kamilah yang mengganggu mereka. Kami datang, lalu merasa terganggu oleh binatang liar di sana, lantas merasa berhak atas karunia alam ini. Bukankah itu egois namanya?

Menurut Abdul Wahid Situmorang dalam sebuah buku yang pernah saya baca, “Pandangan-pandangan manusia sebagai matra tertinggi di alam semesta banyak tertuang dalam ajaran-ajaran agama sekuler. Pandangan ini berpendapat bahwa perbedaan manusia dengan mahluk lainnya terletak pada akal pikiran. Hal ini meletakkan manusia sebagai mahluk tertinggi dan alam semesta baik itu flora dan fauna merupakan matra kedua yang mengabdi untuk kepentingan manusia yang disebut sebagai antroprosentrisme.

Saya pikir, kami dan semua pengunjung Pulau Sempu pada saat itu, menggunakan konsep ini sehingga merasa agung dan berhak atas Cagar Alam tersebut.

 

Gambar 3. Memandang Laut lepas

Maka siang itu saya dan kawan-kawan pulang dengan sedih. Merasa malu karena telah merayakan Kemerdekaan dengan mental penjajah. Di perahu saat menyebrang kembali, kami berjanji untuk tidak pernah kembali ke Sempu dan kami mendukung penuh penutupan Pulau Sempu secara ketat agar tidak ada wisatawan masuk. Maka pada saat 2017 Pulau Sempu resmi ditutup untuk wisatawan, kami sangat senang!

Setelah hari itu, saya berubah haluan cara pandang. Tidak lagi merasa keren jalan-jalan, apalagi ke Cagar Alam dan mengartikan posting di media sosial sebagai bentuk nasionalisme. Hari itu, saya tidak lagi memandang sebelah mata pada mereka yang memilih diam di kamar. Tidak lagi merasa superior dengan hobi saya yang suka naik gunung. Bahkan terkadang saya malu pernah ada di situ.

Setiap Hari Bumi atau pada saat Kemerdekaan, banyak orang memposting suatu tempat indah dengan keterangan, “Indonesia itu indah, masih mau di rumah saja?”. Atau provokator lainnya agar orang ikut dengan hobi kita yang suka jalan-jalan. Saya selalu membayangkan, sebesar apa dampak postingan itu dapat merusak alam Indonesia? Berapa banyak tempat wisata yang pada akhirnya rusak untuk memenuhi ego manusia yang butuh rekreasi? Berapa banyak tempat wisata yang diembel-embeli dengan perbaikkan untuk mempermudah akses manusia masuk ke sana? Dan kita, yang mengaku mencintai alam dan punya jiwa nasionalisme, justru tanpa sadar ikut merusaknya.

Dari situ saya berterima kasih pada teman-teman saya yang gemar diam di kamar, mendengarkan musik atau sambil nonton Youtube. Terimakasih karena sudah berkontribusi untuk tidak merusak ekosistem alam dengan membiarkan mereka tumbuh secara alamiah.[]

*setiap isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *