Wanadri That’s All, Membedah Komunitas Wanadri

Sumber Artikel : Buletin Wanadri No.1-XVII Februari 2000

Sumber Foto : Pustaka Tropis Wanadri

Disunting kembali oleh 1964 Tropical Voyage.

 

Pertama-tama mohon maaf bila uraian berikut ini kurang lengkap atau tidak tepat, karena keterbatasan (penulis-red) dalam mengamati perkembangan Wanadri. Sengaja tidak dicantumkan tahun, agar menjadi semacam kesinambungan sejarah terbentuknya komunitas (sejumlah nilai-nilai mentalitas) dari komuniti (warga) Wanadri.

Bagian ini akan sedikit mendongeng tentang “searjuna” apa Wanadri itu? Mengapa Arjuna, karena Arjuna-lah yang diberi nasihat oleh Batara Kresna. Umpamanya Wanadri adalah seorang Arjuna sedang berpikir: “Apa yang dapat kita berikan kepada Wanadri, bukannya apa yang dapat diberikan oleh Wanadri (untuk kita-red)”.

Warga Wanadri memang senang sekali memakai kata-kata itu. Ini adalah nilai Jiwa Korsa yang ditanamkan dalam-dalam di hati seorang Wanadri. Jiwa Korsa itu diturunkan menjadi Janji dan Hakekat Wanadri. Janji dan Hakekat Wanadri intinya adalah pengabdian seorang Ksatria dan sekaligus pengorbanan seorang pendekar. Ksatria adalah pembela kepentingan bangsa dan negara, sedangkan Pendekar adalah orang yang mengembara ke sana-kemari, dan menegakkan sesuatu yang dianggap kebenaran oleh dirinya. Inilah nilai-nilai utama kewanadrian. Selain jiwa korsa, Janji dan Hakekat Wanadri, ada lagi nilai-nilai lain yang tersembunyi. Melalui tulisan ini, mari kita bedah.

Kalimat Wanadri that’s all adalah ungkapan Kang Ulun ketika beliau menceritakan arti Wanadri bagi dirinya,“Pokoknya Wanadri mah, That’s all!”

Lain pula Kang Boni spesialis Komandan Dapur, mengatakan apa arti Wanadri bagi dirinya, “Saya masuk Wanadri karena ingin mengenal diri saya. Ternyata setelah saya tahu diri saya melalui Wanadri, saya sadar untuk mengenal diri saya sebenarnya saya tidak perlu masuk Wanadri!”

Ada yang menarik dari kedua ungkapan itu, yaitu bagi keduanya Wanadri memang memberikan suatu penghayatan tentang kehidupan, tidak sekadar ketrampilan hidup di alam terbuka. Padahal kegiatan Wanadri adalah kegiatan bermain di alam terbuka (outdoor, wilderness).

Wanadri memang tidak pernah menyebutkan organisasi yang terampil menempuh rimba dan mendaki gunung. Wanadri berlatih dan berlatih adalah dalam rangka pendidikan seumur hidup. Nilai-nilai apa di balik itu semua, mari kupas lebih dalam mengapa hal itu sampai ada.

Gambar 1. Pendiri dan Pelopor Wanadri saat menjelajah ke Ujung Kulon. Sumber: Buku Hari-Hari Petualangan Harrie

Wanadri dan Kopassus, Laksana Arjuna dan Bima

Jiwa Korsa seorang Ksatria boleh jadi adalah pengaruh dari Mas Sarwo Edhie Wibowo (W-002 Pelindung). Wanadri dan Sarwo Edhie bagaikan seorang keponakan dengan paman yang bijak. Tak heran bila Wanadri dan Kopassus kemudian bagaikan sepupuan. Pengaruh Kopassus tampak pada Wanadri. Wanadri dan Kopassus media bermainnya sama (gunung-hutan) menjadikan keduanya sangat akrab dalam bertukar pengalaman dan ilmu menjelajah gunung-hutan. Bahkan sampai ke bentuk kegiatan, cara memberi perintah, cara memahami perintah, cara bergerak di lapangan dan istilah-istilahnya. Walaupun demikian ada perbedaan menyolok antara Wanadri dan Kopassus, yaitu konsep pendekatan humanis yang berbeda terhadap alam.

 

Wanadri, Kepanduan, Green Horn dan Collin Mortlock

Wanadri didirikan oleh individu-individu yang menyebut dirinya terpengaruh oleh konsep kepanduan, misalnya Kang Harrie Hardiman, Kang Roni Nurjahman dan para Pendiri lainnya.

Kepanduan diciptakan oleh tokoh popular bernama Lord Baden Powell, pada decade 1930. Jaman 1930-an adalah jaman ‘petualangan kolonial’. Ketika para tentara, pedagang kaum kolonial bercerita tentang petualangan berbulan-bulan ke negeri seberang yang keras dan kejam. Oleh Powell risiko petualangan yang ‘lama, keras dan kejam’ dipoles menjadi kegiatan petualangan akhir minggu yang menyenangkan. Powell mengajak anak-anak bertualang di pinggiran desa atau di hutan wisata. Ia menamakan kegiatannya dengan scouting, karena banyak mengamati jejak binatang, pepohonan, kehidupan satwa liar.

Kegiatan jalan-jalan itu hanya menyentuh pinggiran hutan belantara, sehingga konsep Powell sering disebut “piknik di pinggir hutan”. Budaya piknik di pinggir hutan berkembang di Inggris karena perkembangan transportasi jalan mobil di Inggris dan Eropa.

Gambar 2. Wanadri Muda berkegiatan Persami

Dilihat dari sudut interaksi alam dan manusia, konsep Kepanduan menekankan fungsi alam terbuka sebagai media belajar, bukan pada fungsi penjelajahannya. Dampaknya pada Wanadri adalah para pemuda Pendiri Wanadri berkegiatan di sekitar pinggiran desa (Gunung Ciremai, Gunung Gede, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Papandayan). Belum ada penjelajahan ke negeri seberang, yang jauh dari Bandung.

Pengaruh Powell pada Wanadri juga tampak pada konsep pendidikan seumur hidup yang sering didengungkan oleh para sesepuh Wanadri. Konsep pendidikan seumur hidup adalah konsep dasar pendidikan (elementary act) di Inggris ketika Kepanduan muncul. Semangat kekeluargaan juga muncul kuat, mungkin berakar dari interaksi para Pendiri, yang bermain di pinggiran desa, pergi bersama-sama, menikmati udara desa, tertawa bersama, pulang dengan badan dan hati yang nyaman.

Era berikutnya adalah era Iwan Abdulrachman, yang akrab dipanggil Abah Iwan. Apa yang dibawa oleh Abah Iwan mempunyai nuansa lain yang, menurut pengamatan saya, sudah tidak lagi berkepanduan secara murni. Kegiatan yang dikembangkan oleh Abah Iwan dan saudara-saudara ‘seperguruannya’ diwarnai oleh cerita ketangkasan Indian dan kepolosan Green Horn (tanduk hijau berarti masih muda, belum berpengalaman). Indian yang tangkas tergambarkan dalam cara-cara berpakaian ala Indian, seperti pisau di pinggang dengan sarung berumbai. Senang berjalan dalam kelompok kecil (2-3 orang), dan bahkan sendiri. Adu keberanian berjalan malam sendirian di jalur Jayagiri (yang dulu masih angker dan berhutan lebat) adalah cerita yang tak lapuk di makan jaman.

Lempar pisau menjadi keterampilan yang membanggakan. Seorang Wanadri dari konsep Indian ini, haruslah seseorang yang mampu segalanya, terampil segalanya—walaupun sebenarnya hanya ketrampilan sekitar gunung-hutan. Seperti membuat bivak, menyalakan api, mampu mencari makanan survival, dan seterusnya. Kerendahan hati adalah konsep yang pas mencitrakan seorang Wanadri—Indian yang matang.

Pada era ini juga mulai terbentuk Wanadri senior dan Wanadri hijau (Wanadri muda-red). Pola pengasuhan Wanadri hijau juga dipengaruhi tahapan inisiasi Indian Muda. Harus menunjukkan keberanian, ketangkasan dan loyalitas tanpa batas kepada senior. Penjelajahan ke negeri “tak bertuan” adalah impian para Wanadri kala itu. Era ini penting karena membentuk semangat ‘Indian’ yang tidak mudah berputus asa walau dalam keadaan survival, memberikan semangat maju terus pantang mundur, setia dan percaya pada teman seperjuangan, mempunyai kepercayaan diri yang ‘super’.

Gambar 3.Kegiatan penutupan Pendidikan Dasar Wanadri

Kang Ujang Soleh (almarhum-red) menggambarkan, “Sulit menemukan anggota Wanadri yang pesimis atau bersikap gampang putus asa.” Sedangkan Kang Omay menggambarkan, “Nilai-nilai juang dan kerja keras, pantang berputus asa, keras hati dan saling percaya pada teman yang sangat tinggi.” Lalu Mas Kuntoro Mangkusubroto mengatakan, “…mampu menemukan dan meningkatkan kepercayaan diri.”

Tapi bagaimanapun juga, hasil dari kekompakan itu membuat Wanadri melaju melebihi organisasi sejenis di masanya, karena maintenance energy-nya kecil (karena kelompok yang kompak), maka effective energy-nya akan besar. Effective energy adalah energi yang efektif digunakan untuk mencapai tujuan kelompok. Wanadri di era Green Horn ini membuktikan hal itu. Yang perlu dicatat, bahwa era Kepanduan dan Indian secara utuh memberikan penghayatan tentang nilai-nilai seorang pendekar.

Di sini Wanadri juga seorang pendekar yang bersifat kerakyatan, tidak hanya seorang Ksatria yang bersifat kenegaraan. Wanadri terus berkembang karena bertambahnya anggota, dan membaiknya perekonomian Indonesia serta perkembangan teknologi peralatan mountaineering.

  1. Pertambahan anggota berarti bertambahnya jumlah manusia yang berinteraksi, dan biasanya meningkatkan gesekan-gesekan dalam ber-Wanadri.
  2. Membaiknya Ekonomi berarti makin terbuka untuk mewujudkan mimpi-mimpi menjelajah ke tanah “tak bertuan”, atau mimpi menjelajah sampai atap dunia.
  3. Berkembangnya teknologi selain menyebabkan digantinya alat-alat ‘piknik di pinggir hutan’, juga mengakibatkan meningkatnya jenis kegiatan menantang, baik dalam hal tingkat kesulitan maupun jaraknya dari Bandung. Tali dadung misalnya, ketika diganti tali karmantel, menyebabkan seorang Wanadri dapat memanjat tebing puluhan meter dengan aman. Dengan sleeping bag, Wanadri dapat pergi ke daerah salju di Irian.

Akibat dari perubahan ketiga faktor tersebut, munculah era baru di Wanadri, yaitu Era Collin Mortlock. Pada era baru ini, Wanadri ‘diam-diam’ dikembangkan oleh Iwan Bungsu dan Prasidi, dengan dukungan saudara seperguruannya, yaitu Item Irwanto Iskandar dan Danar Dana. Bacaan yang paling mempengaruhi kelompok perguruan ini adalah tulisan Collin Mortlock (1973).

Collin mengajarkan objective danger dan subjective danger, Collin mengajarkan jenis kegiatan alam-bebas mulai dari bermain sampai mis-adventure. Atas dasar pendapat-pendapat Collin, dikembangkanlah gagasan yang bertentangan nilainya dengan nilai-nilai kelompok Pandu dan Indian, sebagai berikut:

  1. Nilai dari gagasan perguruan Pandu dan Indian adalah belajar dari alam tanpa mengundang bahaya-nyata. Sedang nilai dari gagasan perguruan Collin adalah belajar dari alam dengan mengundang bahaya-nyata.
  2. Perbedaan pokoknya adalah bila ‘indianisme’ belajar dari hikmah-hikmah kebesaran alam, sedang ‘collinisme’ belajar dari hikmah-hikmah tantangan alam. Collinisme juga bertentangan dengan nilai-nilai Kepanduan, karena kepanduan membuat kegiatan dengan menghilangkan unsur petualangan yang berbahaya-nyata, sedang Collinisme justru memasukkan unsur petualangan yang berbahaya nyata. Perwujudan kegiatan Collinisme walaupun tidak semuanya bertentangan tetap ada persamaan dan perbedaannya dengan seorang Indian atau Pandu. Namun tetap saja dianggap sebagai yang tidak mempunyai ‘loyalitas’ terhadap nilai-nilai kewanadrian. Kegiatan baru, misal panjat tebing, membutuhkan keahlian-keahlian khas.
Gambar 4. Ilustrasi ketika mengelilingi Api unggun

Keahlian khas ini berarti spesialisasi, konsep spesialisasi jelas sangat bertentangan dengan konsep segala-bisa seorang Indian. Sedang spesialisasi di kepanduan adalah lumrah bahkan diberi brevet keahlian. Collin menyatakan bahwa petualangan tanpa rasa takut tidak akan menjadi petualangan, sehingga petualangan harus mengandung risiko. Kegiatan alam-bebas tanpa tantangan adalah bermain atau rekreasi.

Kegiatan baru lain adalah manajemen ekspedisi mountaineering, yang menuntut anggota tim yang solid dan terpilih. Konsep pemilihan anggota tim, juga merupakan nilai yang berbeda dengan para Indian, karena seperti tidak setia-kawan. Namun para Pandu dapat memahami, karena di Kepanduan memang ada dinamika kelompok tim kecil sebelum bergabung ke dalam tim besar. Meskipun demikian, kaum collinisme menyebabkan kegiatan Wanadri meruak ke segala penjuru dunia. Para Wanadri mencari tingkat kesulitan yang lebih tinggi, sekaligus juga mencari jarak penjelajahan yang jauh dari Bandung. Namun kegiatan ini tentu memerlukan biaya yang besar. Hal itu yang ‘tidak terduga’ oleh kaum collinisme, ketika generasi berikutnya mengikuti gaya collinisme.

Seperti yang diketahui Collin hanyalah seorang Psikolog, bukan Ekonom dan juga bukan seorang penjelajah. Akibatnya pengertian tentang suatu manajemen perjalanan yang mengandung dan mengundang bahaya tidaklah dipahami benar (walaupun para collinisme membaca buku-buku Christ Bonnington). Kekreatifan Mas Prasidi-lah yang sebenarnya banyak menolong kegiatan ala collinisme. Menurut pengamatan saya, para collinisme di Wanadri, kurang tepat memahami buku Collin. Collin berbicara tentang perubahan karakter melalui tantangan-tantangan yang diberikan oleh alam, tantangan itu mempunyai bahaya, ada bahaya semu dan ada bahaya nyata. Jadi Collin bukan bermaksud berbicara bagaimana penjelajahan yang mengundang bahaya nyata. Hal ini tampaknya tidak disadari oleh para pewaris collinisme paska Irwanto-Danar.

Kekacauan nilai-nilai ini pernah ditengahi dengan sebuah garis-garis besar haluan Wanadri (GBHW). GBHW ini mencanangkan Himalaya sebagai salahsatu targetnya. Untuk mencapai target itu sejumlah Wanadri disekolahkan ke luar negeri, untuk memperdalam ilmu Himalaya. Hasilnya yang tersisa sekarang adalah Mas Item Irwanto, Mas Danar Dana dan Oom Ogun.

Era berikutnya setelah era collinisme adalah era jati diri. Era ini muncul dari pergesekan nilai kekeluargaan di Wanadri dicirikan dengan cara yang khas budaya kekerabatan, yaitu segala hasil karyanya adalah anonim. Sifat kegiatannya babaduyan (kesana-kemari sama-sama) dan kepada masyarakat luar tidak memunculkan nama atau jati diri seseorang. Kemudian, dengan adanya panjat tebing, ORAD atau outward-bound maka sifat kegiatannya adalah individu atau kelompok terbatas.

Kondisi alam, sosial dan budaya di luar Wanadri sangat amat mempengaruhi perubahan nilai-nilai di dalam Wanadri.

Secara sekilas tadi digambarkan perubahan kondisi di luar Wanadri menyebabkan pergesekan nilai-nilai baru dan nilai-nilai lama di dalam Wanadri. Yang harus sama-sama dipahami adalah pergesekan nilai baru dan nilai lama akan selalu ada selama manusia Wanadri itu berkegiatan. Mari kita berbenah diri, agar nilai-nilai lama dan baru menjadi sinergi untuk Wanadri, dengan cara membongkar nilai-nilai Wanadri lebih rinci lagi. Pertentangan biasanya terjadi karena adanya nilai-nilai yang diperca diusik. Seperti yang sudah disebutkan pada awal tulisan ini, nilai-nilai sulit untuk diubah. Tingkah laku mudah berubah namun nilai-nilai belum tentu berubah.[]

Buletin Wanadri
Dokumen awal tulisan di Buletin Wanadri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *